Update

Kamis, 16 Februari 2017

Saat Bangsa Melawan Bangsa

Jreng jreng jreng waktunya beropini a.k.a curhat mbloo! yopz! Bangsa melawan Bangsa, ecieehhh tema yang cukup berat kayaknya. seberat hidup ini tentang cinta! ahsyiaaa! Tapi ini memang perlu mbloo, mumpung masih muda perlu juga mulai memikirkan hal ini!

Hal ini memang masalah yang sangat-sangat serius! why kenapa why? yapz, sebelum kemerdekaan Republik Indonesia tercinta ini! lawan bangsa kita adalah para penjajah ( bukan bermaksud mengungkit-ungkit mbloo, tapi kita musti Jas merah ).. yapz bertul sekali dahulu bangsa kita melawannya para penjajah, tapi setelah Bangsa ini merdeka kemudian bangsa melawan bangsa sendiri!

Saya pernah mendengar sebuah kata bijak dari mana lupah, dari film atau asli yak, intinya begini. mempertahankan kemerdekaan setelah merdeka itu lebih sulit, dari pada memerdekakannya. walau tetap Perjuang kemerdekaan juga bukan suatu hal yang mudah! tapi sebuah perjuangan yang sangat luar biasa!

Nah mbloo, jaman sekarang ini memang miris bin ngerih banget! bagaimana tidak, kini bangsa Indonesia saling melawan bangsanya sendiri, cuman bedanya mereka lawannya gak pakai senjata nyata tapi lewat senjata virtual alias online! yazp walau pada akhirnya nantinya juga akan berbuntut dengan perlawanan real! Please jangan sampai! Naudzubillah

Ada apa sebenarnya dengan bangsa ini? apakah semua itu karena peran media saat ini? oh Come on mbloo! propaganda terus bergulir, bermacam-macam opini terus digiring, berbagai informasi menyesatkan disebarkan sana sini, yang pada akhirnya semua orang saling terpengaruh dan terbentuk berbagai kubu yang saling menyalahkan, menghantam dan ( isi sendiri )

Apakah benar ini karena peran media? apakah benar ini ada peran-peran tertentu dibalik semua ini?

Pada dasarnya semua kembalinya dari diri kita pribadi mbloo, bagaimana kita bisa bersikap bijak dan sebagainya. tapi sayangnya sulit yang namanya menyeragamkan pola pikir di jutaan Rakyat Indonesia tercinta ini!

Dan sepertinya peran terbaik dari permasalahan yang melanda negeri tercinta ini sejatinya dimiliki oleh para pemuka agama dan organisasi-organisasi Agama yang "Bijak" dan saya sangat suka sekali dengan sebuah dialog yang diselenggarakan TVOne dengan tema Merekatkan bangsa Indonesia. dan yang luar biasa paparan dari Tokoh ormas Indonesia yakni Bapak Haedar Nasir, paparan yang menurut saya sangat bijak dan ini penting dimiliki oleh bangsa ini, berikut saya Copaskan dari Suara Muhammadiyah


“Bangsa Indonesia sesungguhnya memiliki modal sejarah, modal ruhaniah dan modal intelektual yang cukup serta dianugerahi oleh Tuhan kemerdekaan yang luar biasa di samping juga kekayaan alam.

Bangsa ini diberi khazanah oleh para pendiri bangsa tentang makna pengorbanan. Ketika 8 tokoh Islam pada akhirnya harus mencoret 7 kata dalam Pancasila dan kunci terakhir ada di Ki Bagus Hadikusumo –yang menjadi ketua Muhammadiyah ketika itu-, mereka bukan tanpa berkorban. Bahkan Soekarno sebagai penggagas jalan tengah ketika itu sampai menangis sesungguhnya. Tetapi demi kemerdekaan yang baru satu hari kita nikmati, semua harus berkorban.

Dalam proses perjalanan yang panjang, ada sesuatu yang hilang di tubuh bangsa ini dan jika dikatakan adakah keretakan pada bangsa ini, pihaknya mengatakan bahwa terdapat gejala retak pada bangsa ini, dan mungkin saja ada musibah besar yang menimpa bangsa ini, karena tidak mungkin ada bangsa besar yang tanpa masalah.

Saya merujuk pada Al-Quran di surat Al-Isra ayat 16, ini bisa jadi filosofi kita dalam berbangsa, jika Allah menghendaki sebuah bangsa itu hancur maka Dia biarkan para elit bangsa itu untuk berbuat sekehendaknya, lalu diingatkan oleh Rasul dan siapapun mereka yang membawa kebenaran, dia tetap tebal muka, ugal-ugalan dan dia tetap gegabah bahkan terus berjalan dengan kesalahan dan keserakahannya lalu bangsa itu menjadi hancur.

Ada tiga hal yang bisa membuat bangsa ini retak.

Pertama, adalah sifat sembrono dari warga bangsa atau elit bangsa, yang kemudian menjadi culture dan dibenarkan oleh publik.

Kedua, sistem yang lemah yang tidak lagi menggunakan sistem hukum, sistem politik dan tidak bisa lagi menegakan diri diantara posisi yang benar atau salah. Lalu semua menjadi serba abu-abu, menjadi uncertainly.

Ketiga, adalah value, nilai-nilai kebangsaan yang tidak dipahami, tidak dihayati, hanya dihafal. Pembukaan UUD 1945, pancasila, kemudian semangat para pendiri bangsa itu lewat hanya sekedar hafalan, tidak menjadi value.

Tapi kami masih optimis, karena arus besar kita ini sebenarnya masih ada dalam sebuah semangat untuk bersama, sebagaimana dikatakan Bung Karno, Indonesia ini akan tetap tegak ketika ada gotong royong. Bung Hatta mengatakan bangsa ini tegak ketika kolektivitas itu menjadi nafas gerakan hidup kita.

Hampir semua tokoh bangsa yang punya jiwa negarawan mewariskan nilai-nilai itu, tinggal maukah kita semua termasuk yang hadir disini, di ruangan ini untuk menyerap nilai itu dan mempraktikannya dalam kata bukan retorika.

Maka itu berpulang pada hati nurani masing-masing. Sebab siapapun tidak bisa membohongi dan mendustai hatinya.

Kami Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama dan semua kekuatan-kekuatan agama di sudut negeri ini memiliki semangat yang sama, bahwa keretakan itu sesuatu yang wajar sebagaimana rumpun bambu yang bergerak kesana-kemari, kadang saling bergesek, namun semua harus terus berkomunikasi, berdialog, terus mencari jalan dan kuncinya adalah ketulusan.”

image | teknikhidup.com

Bantu Mbloogers Membagikan Artikel Ini Yaa

Posting Komentar

 
Copyright © 2016 - 2017 Mbloogers.com - Untuk Generasi Muda Indonesia. Designed by OddThemes | About | Contact and Advertising | Privacy Policy | Sitemap | DMCA.com Protection Status | ID Corners